Filed under: Renungan..
Satu sapaan menempelak diriku, seharian termenung, dan terkejut dgn sikap diri yg lumayan kasar terhadap anak. Di sela was2 itu makin muncul bayangan bayangan akan kepribadian anak yaang bisa saja mungkin saja menjadi salah karena ketidak pintaran dalam memanage prilaku kita sendiri sebagai orang tua.
Hanya perkara kecil sebenarnya, namun karena bisa jadi ketidaksiapan kita menjadikan tertera erat di otak sang anak. Cara kita yang kadang memaksa anak, sedikit banyak mempengaruhi mereka. Mungkin pembaca akan bingung, ngapain kok pembaca diajakin untuk ikut dlm masalah diriku ini. Hanya sekedar kekagetan diriku saja, ketika bersikap agak kurang wajar, langsung sapaan itu mendekat. Ya Allah begitu cepatnya Engkau menegurku, Alhamdulillah.
Pagi yang sibuk, begitu biasanya menjalani rutinitas, entah karena sudah dianggap rutinitas, kuanggap biasa tangis dan rengek anak2 yg malas2 an untuk sekolah dan bergegas untuk mengejar ilmu. Namun karena seringnya, secara tak sengaja ku beri ultimatum yg membuat anakku kaget. Mungkin antara bingung dan kesal, tumpahan air mata makin menjadi. Kujadikan hati ini gagah, disela kerapuhan melihat uraian air matanya. Sampai berangkat sekolah pun tak ada canda dan lompatan kegembiraannya…Duuuuh pagi yang menyesakkan..
Terus terang melepas anakku pergi dan mendudukkan di bangku kelasnya, masih tak ada senyum di mukanya. Sempat ketika menuruni tangga ku pegang erat tangannya dan kuhapus air matanya, mencoba untuk memberikan support dan menyuruhnya untuk tersenyum, sedikit tersenyum untuk ibunya, tak berhasil..walau pun kata maaf telah terucap sambil mengecup tangannya.
Pulang ke rumah selepas mengantar dia, ku termenung, makin termenung, dan sesak rasanya, apalagi terbayang wajahnya dengan untaian butir bening di pipinya. Beberapa jam di depan Laptop tak bisa mengusir ke was2an itu, mungkin makin menjadi. Ya Rabb..
Lama sekali menunggu ke waktu pulang sekolah, tak terbendung, akhirnya berlari ke Sekolah dan menunggu mereka pulang. Terlihat wajah yg tadi menangis ceria melihat diriku ada di sekolah, ku peluk dia dan ku elus kepalanya, kucium dengan kasih sayang. Akh Anakku..Engkau kadang begini kadang begitu pintarnya mengolah wajah, Aktor yang baik!!
Aktor!!, bukan konotasi buruk yg ada dikepalaku, karena memang anakku sangat berperasaan. Mungkinkah ibunya yang mengajari?? Bisa juga, jadi ibunyalah sebenarnya aktor yang paling baik yang harusnya mendapat piala citra he3
Bila kuamati, memang dia lebih berperasaan dibandingkan anakku yang lain, salah satu kesempatan baikku adalah seringnya membacakan kisah atau dongeng sebelum dia tertidur. Kadang dongeng atau kisah itu dalam bahasa inggris yang belum bisa dia fahami, tapi suara ibunya membuat dia lebih cepat tertidur. Kadang lebih duluan tidurnya daripada selesainya kisah yang kubaca he3..
Ibu sesungguhnya yang membentuk watak kita, tadinya saya tak begitu percaya, karena kadang ada yg sampai bertolak belakang dgn karakter sang ibu. Namun ternyata sang anak dibesarkan bukan di “lingkungan ibunya” bisa dilingkungan lain, tapi secara implisit “izinnya” sang ibu untuk membiarkan sang anak hidup di lingkungan yang membentuk prilaku permanen sang anak menjadi point pula…
Setujukah Anda??
Cairo 3 Maret 2010 01:05
Untuk Nurhana yang Sholihah
Leave a Comment so far
Leave a comment
