Filed under: Uncategorized
Perjalanan yg menyenangkan bersama dengan teman2 di pengajian Annisaa. mengunjugi benteng QAITBAY di Alexandria Mesir..
Seorang teman cakap sekali dia, tanggap dalam melihat masalah dan mampu mengupasnya dengan kata2 yang baik. Dalam setiap postingannya atau pun nasehat2nya di FB atau di Blognya, tak lupa menaruhkan ilmunya yang ruaaaaaaaar biasa. Karena lingkungan kecil kami, gesekan gesekan itu selalu terjadi, dan boleh dibilang hanya orang2 yang pintar dan bijak yang mampu membawa diri juga menata hati. Bagaimana tidak kita hanya diam, disela teman2 kita bercanda ria dan tertawa senang, bercerita dan saling berseloroh? Alhasil semua pasti percaya, mana tahan untuk tidak kumpul2 dan menyatu dengan teman2 yg notabene satu profesi, misalnya ibu rumahtangga, dgn suami yg satu kantor lagi. Atau dengan tetangga satu deret kampung..
Dan sang teman tadi selalu dan selalu kalau tak mau dibilang sering, dia mengangkat tema yang paling tajam “pergunjingan”. Bila materi (the topic of the day is ….) masalah diomongin orang dia banyak rujukannya, baik Al Qur’an ataupun hadist bahkan pendapat ulama.
Kita berhenti disini, tolong dicerna bahwa saya menulis tidak membawakan satu tokoh, yaitu misalnya A, tidak begitu tokoh ini ada di sekitar kita, atau bahkan kita sendiri…OK mari kita lanjutkan.
Perilaku yang menarik dari sang teman tadi, dia begitu matang dalam materi, bahkan bila disuruhkannya untuk membuat ceramah, maka materi itu akan begitu melekat dalam ceramah atau kultum yg dibawakannya. Hanya sayang, sayang menurut saya, bila dia kita ajak bicara, dan maaf ngomong kita ngerumpiin satu orang, apa yg terjadi maka berbusa busa bahkan mungkin kita aja kagak tahu malah dia lebih tahu..ckckckckckck…
Sedih, suwer sedih banget punya teman seperti itu, dan paling sedihnya ketika sampai seorang teman terucap, “Dia kan dah sekolah tinggi, pintar, ilmunya banyak,…..kok ngga mengamalkan ilmunya yah,…sadar apa nggak dia yah??” Mungkin kalau satu dua kali tak menjadi masalah, mungkin dia khilaf, tapi sampai terucap kata teman seperti itu, sang teman yang cakap itu tak merasa dirinya salah..eh apa iya yah…
Kadang2 saya suka nyentil sendiri didepan dia, tapi kayaknya ngga berasa, mungkin karena saya kurang begitu peka dgn keadaan, tidak seperti dia yg peka banget apa pekak yah xixixixi…Kadang berpikir, nich orang musti diapain biar dia tahu kalau dia tuh salah,..tapi karena dia sudah di kuliahan tinggi dibandingkan diriku, pikiran itu tertepis dgn ucapan,..”Well, ngapain ngurusin orang diri sendiri aja kagak keurus..”
Jadi keingetan satu pesan guru, “Janganlah kita merasa bukan bagian dari apa yang dibicaraka Al Qur’an, ketika Al Qur’an berbicara tentang Yahudi, maka bisa jadi otak dan prilaku kita pun sudah mirip Yahudi, maka Allah SWT ingatkan kita, begitu juga ketika berbicara munafik, jgn berpikir akh itu mah bukan saya, tapi bisa jadi bibit penyakit munafik itu sudah ada dalam diri kita, atau bahkan kita sudah menjadi munafik sejati, Naudzubillahi min dzalik”..
Hiiiiiiiiiii ngeri nya yah..
Maka, carilah kawan yang kita bisa sandarkan tubuh kita ke dadanya, dan kita mintakan nasehatnya, “Nasehatilah aku..!!!”. Agar hati ini tidak berkarat untuk menerima hidayah Nya… Beratus2 buku agama atau genre pendidikan moral telah terbaca, namun bila hati belum teduh dengan iman Nya tak akan meraih surga Nya. Walau telah berbusa-busa mulut berbicara tentang akhlak dan prilaku baik, namun bila prilaku kita tak beranjak dari tempat yg kelam, mana mungkin bisa meraih ke ruangan yang terang…
Jaga Mulutmu, karena itu harimaumu..
Jaga Hatimu, karena itu pedangmu..
(eh buat peribahasanya salah ngga yah…aku butuh nasehatmu!!)
Fotonya ngga nyambung banget..nget..
Di dalam kehidupan kami, mampirlah satu nama yg mungkin ketemunya hanya beberapa kali, namun sungguh membuat diri kami makin mencintainya. Bagaimana bisa kami berkenalan dengannya??? Tak pelak lagi urusannya adalah dgn barang rumah tangga kami yang rusak dan sangat vital kebutuhannya di negeri ini yang mengalami 4 musim, yaitu KULKAS atau lemari es.
Baba Athiya, begitu kami memanggilnya. Sudah penat menghadapi masalah kulkas yg dibetulin sama orang mesir kok ngga bener2, sebentar bener, habis itu break lagi duh itu kulkas maunya dibuang aja. Tapi Alhamdulillah tetangga Indonesia yang hidup di Dokki pada kasih tahu nama dan telepon Baba Athiya yang penolong ini. Setelah menyanggupi, dan tahukah anda dia tak akan menolak untuk menolong orang Indonesia, kapan pun.
Sungguh sangat terharu ketika kami datang ke rumah setelah belanja mendapati sang Baba (bapak) sedang duduk di tangga menunggu kedatangan kami. Kami yang terbiasa dgn kebiasaan orang mesir yang ngaretnya Naudzubillah terkejut dan minta maaf banget pada beliau. Secara beliau dah sepuh banget, dan badannya gemuk, kelihatan susah bernafas pula. Namun patut diacungi jempol dalam menaati janjinya, tepat, walau pun hanya pakai angkutan bus biasa yang kalau dari tempatnya memerlukan waktu berjam2 bila macet.
Tahukan anda, bila orang mesir berjanji terkenal dengan IBM bukan produk elektronik ini mah. Singkatan aja..
Bila pertama mereka berjanji misalnya kapan anda datang, atau kapan selesainya, atau kapan ada barangnya, pasti akan berucap INSYA ALLAH jam sekian atau hari apa etc…I = Insya Allah
Nah pas dgn yang kita janjikan tuh barang atau orang atau yg dijanjikan ngga ada mereka akan bilang dengan enteng..BUKROH..B=Bukroh artinya besok hari..
Besoknya kita datang, lho belum ada juga apa yang dijanjikan maka dengan tanpa dosa mereka akan bilang MALISY..M = Malisy artinya maaf…hasilnya nyebelin n hati2 bila berjanji dgn orang mesir, jadi jgn salahkan daku bila tak percaya padamu Mesir he3..
Kembali ke cerita Baba Athiya tadi, Baba Athiya dgn apiknya meneliti kulkas kami, dan bila kami bantu karena merasakan kasihan melihat tubuhnya yg tua dan gemuk, pasti dia akan menolak dan berujar, saya masih kuat nak.!! Subhnallah..Dan Alhamdulillah kulkas kami pun beres, diganti motornya, dan dengan badan yg setua itu dia antar ayahnya anak2 membelinya, agar tidak salah dan tidak dibohongi katanya..he3..dah belinya jauh diantar pula..
Selesai memperbaiki kulkas, beliau berpamitan, kami tanyakan berapa ongkosnya dia sebutkan yang membuat kami bengong, untung lalat ngga lewat di mulut kami yg menganga, berasa bertemu malaikat dah. Karena dia hanya menyebut angka yang kecil, yang menurut kami malah tak layak, sebab sebelumnya si tukang reparasi mintanya uang duuuuuuuuuuuh buanyak banget, belum ini itunya, udah gitu ngga lama kulkasnya hidup hiks..
Akhirnya kami pun menambah untuk ongkos beliau pulang, apa yang terjadi saudara? Beliau kembalikan uang kami dan berkata, “Ini dah cukup nak, simpan uangmu untuk jajan anakmu..” Gubraaaak,..klepek2..
Ya Allah Baba, sebegitu halusnya dirimu…soalnya bandingin ama orang mesir yg lain nich..Jadi berpikir ternyata masih ada orang baik banget di masyarakat kalangan bawah mesir ini..Ini kejadian di awal tahun 2000 an..
Ayahnya anak2 ngga tega begitupun saya, kami memaksa untuk menemani beliau ke rumahnya, beliau menolak karena memang rumahnya jauuuuuuuuuuuh sekali. Tapi tetap ayahnya pergi dgn beliau, dan memang pulangnya dari tempat beliau larut malam, dan dengan cerita yang membuat terharu karena hidupnya hanya berdua dengan istrinya, anak2nya dah berkeluarga semua. Istrinya ramah malah mengajak makan malam. Dan mereka bercerita tentang semua anak2nya..
Setelah kejadian itu kami agak berhati2 bersikap, karena tidak semua orang digambarkan seperti IBM tadi, karena masih banyak orang2 baik di sekitar kita. Selama ini pun, bila ada orang mesir yg tak baik, saya selalu menafikan itu dan menampilkan sisi baiknya mereka, ternyata efeknya ke diri kita, hati kita makin tenang tinggal bersama mereka..
Subhanallah wal hamdulillah wa syukrilillah…Telah Engkau pertemukan kami dgn Baba Athiya
Filed under: Renungan..
Satu sapaan menempelak diriku, seharian termenung, dan terkejut dgn sikap diri yg lumayan kasar terhadap anak. Di sela was2 itu makin muncul bayangan bayangan akan kepribadian anak yaang bisa saja mungkin saja menjadi salah karena ketidak pintaran dalam memanage prilaku kita sendiri sebagai orang tua.
Hanya perkara kecil sebenarnya, namun karena bisa jadi ketidaksiapan kita menjadikan tertera erat di otak sang anak. Cara kita yang kadang memaksa anak, sedikit banyak mempengaruhi mereka. Mungkin pembaca akan bingung, ngapain kok pembaca diajakin untuk ikut dlm masalah diriku ini. Hanya sekedar kekagetan diriku saja, ketika bersikap agak kurang wajar, langsung sapaan itu mendekat. Ya Allah begitu cepatnya Engkau menegurku, Alhamdulillah.
Pagi yang sibuk, begitu biasanya menjalani rutinitas, entah karena sudah dianggap rutinitas, kuanggap biasa tangis dan rengek anak2 yg malas2 an untuk sekolah dan bergegas untuk mengejar ilmu. Namun karena seringnya, secara tak sengaja ku beri ultimatum yg membuat anakku kaget. Mungkin antara bingung dan kesal, tumpahan air mata makin menjadi. Kujadikan hati ini gagah, disela kerapuhan melihat uraian air matanya. Sampai berangkat sekolah pun tak ada canda dan lompatan kegembiraannya…Duuuuh pagi yang menyesakkan..
Terus terang melepas anakku pergi dan mendudukkan di bangku kelasnya, masih tak ada senyum di mukanya. Sempat ketika menuruni tangga ku pegang erat tangannya dan kuhapus air matanya, mencoba untuk memberikan support dan menyuruhnya untuk tersenyum, sedikit tersenyum untuk ibunya, tak berhasil..walau pun kata maaf telah terucap sambil mengecup tangannya.
Pulang ke rumah selepas mengantar dia, ku termenung, makin termenung, dan sesak rasanya, apalagi terbayang wajahnya dengan untaian butir bening di pipinya. Beberapa jam di depan Laptop tak bisa mengusir ke was2an itu, mungkin makin menjadi. Ya Rabb..
Lama sekali menunggu ke waktu pulang sekolah, tak terbendung, akhirnya berlari ke Sekolah dan menunggu mereka pulang. Terlihat wajah yg tadi menangis ceria melihat diriku ada di sekolah, ku peluk dia dan ku elus kepalanya, kucium dengan kasih sayang. Akh Anakku..Engkau kadang begini kadang begitu pintarnya mengolah wajah, Aktor yang baik!!
Aktor!!, bukan konotasi buruk yg ada dikepalaku, karena memang anakku sangat berperasaan. Mungkinkah ibunya yang mengajari?? Bisa juga, jadi ibunyalah sebenarnya aktor yang paling baik yang harusnya mendapat piala citra he3
Bila kuamati, memang dia lebih berperasaan dibandingkan anakku yang lain, salah satu kesempatan baikku adalah seringnya membacakan kisah atau dongeng sebelum dia tertidur. Kadang dongeng atau kisah itu dalam bahasa inggris yang belum bisa dia fahami, tapi suara ibunya membuat dia lebih cepat tertidur. Kadang lebih duluan tidurnya daripada selesainya kisah yang kubaca he3..
Ibu sesungguhnya yang membentuk watak kita, tadinya saya tak begitu percaya, karena kadang ada yg sampai bertolak belakang dgn karakter sang ibu. Namun ternyata sang anak dibesarkan bukan di “lingkungan ibunya” bisa dilingkungan lain, tapi secara implisit “izinnya” sang ibu untuk membiarkan sang anak hidup di lingkungan yang membentuk prilaku permanen sang anak menjadi point pula…
Setujukah Anda??
Cairo 3 Maret 2010 01:05
Untuk Nurhana yang Sholihah
Filed under: Uncategorized
Mungkin beberapa orang menyatakan bahwa pujian itu meningkatkan kinerja kerja kita. Sementara disisi lain kadang melemahkan kita. Saat kita tidak bersikap baik terhadap pujian itu seringnya malah bukan membuat hati kita dewasa dgn adanya pujian, malah kerapuhan hati yang ada.
Teringat akan satu pepatah ” Taburkanlah pasir ke mulut orang yang suka memujimu”..
Tahukah anda, Pasir di negeri Arab tempat turunnya hadist ini adalah benda yg mudah diraih, karena jaman itu pasir selalau ada di mana2. Bolehkah anda percaya dgn pepatah ini ataukah tidak? Bolehkan anda menilustrasikan lain, seumpama benda yg ada di dekat anda adalah secangkir kopi panas?…Welwh kok teganya yah..
Seberapa besar sih eksesnya pujian itu sampai menjadikan timbulnya pepatah ini? Makin kita rasakan makin kita percayai nasehat ini untuk kita, terutama untuk diri saya khususnya. Memang tipelogi orang akan berlainan. Namun cabalah anda hidup di lingkungan yang penuh dengan pujian dengan tanpa syarat. Bisakah anda bergerak bebas?
Mungkin belum bisa difahami maskud saya, mari saya kutip sebuah prilaku dlm hidup kita. Seorang ibu mengeluhkan dirinya yang tak bisa mendidik anak, dengan tak sengaja ibu itu membandingkan anaknya dan anak si lawan bicara, namun ternyata ibu yg menjadi lawan bicara pun punya keluhan yg sama, walau pun dengan sisi yg berbeda. Nada bicaranya lebih menekankan “inilah saya”, tak lupa sedikit melontakan nasehat juga pujian… Pujian itu sering terlontar, ibu yg mengeluh tadi pun berpikir, jgn2 ini tipe pujian yg melemahkan saya, karena jelas ibu ini sedang lemah hatinya..
Bersyukur sang ibu sadar, semalaman dia merenungkan pujian2 yang terlontarkan untuknya, padahal kenyataannya Non Sense. Bisakah anda bayangkan anda memuji seseuatu yg sebenarnya tak ada pada diri seseorang. Penipuankah? Yup, betul sekali,…jadi saya makin merasa khawatir dgn lontaran pujian yg tak ada “rasa”.. Rasa memuji yaitu memuji untuk merasakan senang dan mencoba membangun sifat jiwa yg dipuji..
Nasehat dari seorang alim, ketika anda dipuji maka cepatlah mengmbalikan kepada Yang Mempunyai Segala Pujian yaitu Allah SWT..Bagi anda yang akan memuji orang, sebelum memuji berpikirlah apakah anda mampu membuat si penerima pujian bisa mengembalikan pada Sang Penciptanya atau kah membuat hatinya rapuh, yaitu timbul sifat sombong dan sebagainya yang itu hanya dimiliki oleh Sang Pencipta..
Sebelum anda ditaburi pasir orang lain, berhentilah memuji yang tanpa alasan or cuma basa basi!!!
Takutlah akan bertambahnya golongan orang2 yg sombong kepada Penciptanya gara2 pujian anda!!!
Tapi teruslah memuji yang membuat orang2 makin dekat dengan Sang Pencipta..
Moga dari pujian kita kepada sesama makin banyak orang sadar untuk kembali ke Jalan Nya.
Saya kira tak sulit, hanya butuh mikir dikit..
“Oh bagusnya bajumu!!, pinternya Anakmu!!”
“Oh ya, akh kamu bisa aja muji..Biasa aja kok, dia hanya rajin belajar..” Srrrrrrrrrrrrrrttttt..hati2…tariklah lawan bicara untuk mengucap..”Alhamdulillah”…
Bila tidak bisa menarik lawan bicara anda untuk mengucap Alhamdulillah maka anda menambah golongan orang2 sombong tadi..Astagfirullah…Maka rasanya cukuplah anda mendapatkan taburan pasir itu..
Semoga bisa menarik hikmahnya.
Cairo 3 maret 00:09


