Orang yang mu’min itu ketika dia marah, selalu memberi ma’af.
Imam Syafei berkata,:”Orang yang dimarahi terus ngga marah , maka dia itu keledai (himar).”
Marah yang bagaimana??
Menurut Yusuf Al Qorodhowi : Yang diejek agamanya, tempat ibadahnya, diinjak-injak ajarannya terus dia ngga marah maka dia adalah mayit…
Bila kita disinggung dalam masalah remeh hal itu bisa dima’afkan, namun ketika masalah prinsip tak ada ma’af dan kita wajib untuk membela diri.
Bershodaqoh dengan harga diri maka itu boleh, artinya ketika harga diri anda dilecehkan, terus anda tidak memberikan perlawanan, maka itu bisa dicatat shodaqoh..
Orang Islam perlu mema’afkan dengan 2 kondisi, Dia kita ma’afkan jika dengan kita ma’afkan dia mau tahu diri..Bila tidak (maksudnya malah tidak tahu diri) maka kita boleh lakukan perlawanan..
Dan bila marah pun harus setimpal, tidak boleh sampai melampaui batas, nah yang seperti ini susah banget. Makanya menahan amarah itu maha berat, bukan suatu yang ringan. Sifat yang mendalam dari seorang muslim adalah Sa’jiah yaitu mudah mema’afkan..
Marah karena Allah itu yang mendapat pahala..Bukan berati orang Muslim harus keras dan sangar lho…
Satu kasus ketika Eropa sangat membenci Islam, apa yang dilakukan oleh seorang Pendakwah Muda sekelas Amr Kholid. Beliau begitu apik menyelesaikan masalah ini. Bukan berarti diam atau marah secara frontal, tapi yang dilakukannya adalah mengajak Dialog, karena bisa jadi mereka seperti itu karena mereka tidak tahu apa yang ada dalam Islam. Maka diselenggarakanlah seminar, dengan mengundang beberapa organisasi untuk bertatap muka, selesai seminar, masih ada follow up setiap meja disediakan 1 orang pemuda Islam untuk 5 orang menjawab semua pertanyaan yang berkenaan dengan Islam yang dilontarkan mereka, dan setiap 3 bulan sekali ada misi, juga 2000 buku perpustakaan berjalan…
Ada pesan dari Allah SWT, :” …dan apabila mereka marah mereka memberi ma’af” (Asy syuura 37). Ini adalah sikap mental jiwa seorang muslim apabila marah maka mereka memberi ma’af. Maka kita diperintahkan pula untuk tidak boleh membuat jiwa orang lain tertekan, Allah perintah kan untuk jangan buat marah orang..
Marah mendapat pahala, dicontohkan oleh prilaku Sayyidina Rasulullah SAW, ketika datang orang yang punya ide untuk mengubah hukuman seorang pencuri, karena kebetulan yang mencuri adalah seorang penggede, maka bergegaslah Rasulullah SAW ke atas mimbar sambil berkata,:” Andaikan putriku Fatimah mencuri, maka akan di potong tangannya..”
Apabila kita sudah ma’afkan orang bukan berarti kita Ridho dengan kedholiman, bisa sabar dengan kedholiman itu butuh waktu. Maka berlatihlah untuk jangan mudah menuduh orang, refferensikan langsung ke orangnya, bila sudah tahu ada keaiban yang dimiliki oleh teman kita maka tutupilah, karena itu amanah dari Allah SWT, orang yang menutupi aibnya orang maka Allah SWT akan menutupi aibnya nanti di akherat…
Ya Robb, semoga aku selalu berada di Jalan Mu…
No Comments Yet so far
Leave a comment
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>