Menghitung Hari…


Film Ayat Ayat Cinta, Dengan Kang Abik
April 8, 2008, 7:39 am
Filed under: Liputan | Tags:

Saya pernah menanyakan pertanyaan dari Ade Siti, tentang bagaimana sikap Kang Abik tentang Film Ayat Ayat Cinta itu..secara seloroh saya katakan apakah ada kekhawatiran untuk mengubah rasa ketika Novel itu diterjemahkan (ini pertanyaan dari Andrea, yang menanyakan sudahkah Ayat Ayat Cinta diterjemahkan ke Bahasa Arab). Ternyata Kang Abik mengakui kekhawatiran itu dan begitu juga ketika difilmkan…

Saya Upload di youtube, dan subhanallah antusias kawan kawan untuk mencari Film Ayat Ayat Cinta itu semangat banget. Untuk seorang ibu seperti saya, penghargaan terhadap kaum muda yang ingin tahu banyak tentang Film itu sangat dibanggakan, betapa hausnya mereka untuk mencari hiburan dengan genre yang berbeda, lebih dari sekedar film biasa..

Sengaja saya kasih judul seperti di atas, ternyata yang berkunjung sudah banyak..

Saya sengaja mampir di youtube, mudah2an seterusnya ingin mengupload yang mendidik kita ke arah yang baik…Semoga…

http://www.youtube.com/watch?v=vRojPIZkkCU



Marahlah Anda, Pada Tempatnya
April 8, 2008, 7:33 am
Filed under: Renungan.. | Tags:

Orang yang mu’min itu ketika dia marah, selalu memberi ma’af.

Imam Syafei berkata,:”Orang yang dimarahi terus ngga marah , maka dia itu keledai (himar).”

Marah yang bagaimana??

Menurut Yusuf Al Qorodhowi : Yang diejek agamanya, tempat ibadahnya, diinjak-injak ajarannya terus dia ngga marah maka dia adalah mayit…

Bila kita disinggung dalam masalah remeh hal itu bisa dima’afkan, namun ketika masalah prinsip tak ada ma’af dan kita wajib untuk membela diri.

Bershodaqoh dengan harga diri maka itu boleh, artinya ketika harga diri anda dilecehkan, terus anda tidak memberikan perlawanan, maka itu bisa dicatat shodaqoh..

Orang Islam perlu mema’afkan dengan 2 kondisi, Dia kita ma’afkan jika dengan kita ma’afkan dia mau tahu diri..Bila tidak (maksudnya malah tidak tahu diri) maka kita boleh lakukan perlawanan..

Dan bila marah pun harus setimpal, tidak boleh sampai melampaui batas, nah yang seperti ini susah banget. Makanya menahan amarah itu maha berat, bukan suatu yang ringan. Sifat yang mendalam dari seorang muslim adalah Sa’jiah yaitu mudah mema’afkan..

Marah karena Allah itu yang mendapat pahala..Bukan berati orang Muslim harus keras dan sangar lho…

Satu kasus ketika Eropa sangat membenci Islam, apa yang dilakukan oleh seorang Pendakwah Muda sekelas Amr Kholid. Beliau begitu apik menyelesaikan masalah ini. Bukan berarti diam atau marah secara frontal, tapi yang dilakukannya adalah mengajak Dialog, karena bisa jadi mereka seperti itu karena mereka tidak tahu apa yang ada dalam Islam. Maka diselenggarakanlah seminar, dengan mengundang beberapa organisasi untuk bertatap muka, selesai seminar, masih ada follow up setiap meja disediakan 1 orang pemuda Islam untuk 5 orang menjawab semua pertanyaan yang berkenaan dengan Islam yang dilontarkan mereka, dan setiap 3 bulan sekali ada misi, juga 2000 buku perpustakaan berjalan…

Ada pesan dari Allah SWT, :” …dan apabila mereka marah mereka memberi ma’af” (Asy syuura 37). Ini adalah sikap mental jiwa seorang muslim apabila marah maka mereka memberi ma’af. Maka kita diperintahkan pula untuk tidak boleh membuat jiwa orang lain tertekan, Allah perintah kan untuk jangan buat marah orang..

Marah mendapat pahala, dicontohkan oleh prilaku Sayyidina Rasulullah SAW, ketika datang  orang yang punya ide untuk mengubah hukuman seorang pencuri, karena kebetulan yang mencuri adalah seorang penggede, maka bergegaslah Rasulullah SAW ke atas mimbar sambil berkata,:” Andaikan putriku Fatimah mencuri, maka akan di potong tangannya..”

Apabila kita sudah ma’afkan orang bukan berarti kita Ridho dengan kedholiman, bisa sabar dengan kedholiman itu butuh waktu. Maka berlatihlah untuk jangan mudah menuduh orang, refferensikan langsung ke orangnya, bila sudah tahu ada keaiban yang dimiliki oleh teman kita maka tutupilah, karena itu amanah dari Allah SWT, orang yang menutupi aibnya orang maka Allah SWT akan menutupi aibnya nanti di akherat…

Ya Robb, semoga aku selalu berada di Jalan Mu…



Engkau Menyapa, Ketika Kasih Sayang Itu Datang
April 8, 2008, 7:24 am
Filed under: Renungan.. | Tags:

Tumben ada yang datang ngga telpon dulu,..eh pas ditanya, “Sendirian aja dek?”jawabnya,”Ngga teh, barengan kawan, tapi saya suruh duluan,..”..Lhoo, biasalah bingungnya hatiku, bila di lemari es ngga ada apa-apa. Maklumlah, mereka jauh dari kampung sepuluh (Hay ‘asyir) yang lumayan ditempuh se jam lebih apalagi kalau macet. Kan kasihan kalau ngga dikasih apa-apa..

Mulailah mencari apa yang bisa dimasak, karena sayang tahu tempe tidak tersentuh, hanya itu, moga menjadi hidangan pengenyang perut mereka..Ditunggu, ditelpon juga, meuni nyeri beuheung sosongeteun ngatosannana (sampai sakit leher nugguinnya), karena lama mereka tak datang, begitu juga si Adek yang duluan datang, ngga enak hati, bolak balik nanyain juga sampai dimana mereka..

Akhirnya datanglah mereka, “Assalamu’alaikum ..”, “Wa’alaikumsalam, na kamu teh kemana aja..” Dan bla bla, dari mulut ini meluncur pertanyaan-pertanyaaan..”Punten teh, macet lama banget jalannya mobilnya, apalagi di daerah Abbas Saqad..”, mereka menjawab lirih..Terkejut bukan karena kedatangan mereka yang bukan hanya satu dua, tapi dengan apa yang mereka bawa,…

“Dek, apa ini kok bawa bawa segala,” “Itu teh, tadinya mah mau beli kue tart yang gede, tapi ngga ketemu, akhirnya ya beli itu saja, untuk hadiah ulang tahun Yahya..” Gubraaaaaaaaks, lemes diriku mendengarnya dan melihat setelah apa yang dibuka adalah beberapa kue Gatho (Slice cake) yang di rias cantik, dan ku tahu belinya jauh di sana di daerah Abbas Saqad..Mereka membawanya dengan kasih sayang dan diupayakan banget untuk mendapat yang gede, namun adanya yang itu ya di beli saja, dan karena macet….kue itu yang mestinya tetap dalam suhu dingin, akhirnya meleleh semeleleh hati ini, berembun mata ini 

Aduh adek adekku .., makasih banget atas semuanya..Sungguh kami tidak bisa membalas perhatian kalian, banyaknya kami yang selalu merepotkan kalian, diujung do’a sholat kami, selalu menyertakan untuk kalian..karena kami tidak bisa memberikan apa apa hanya do’a yang bisa berikan..

Disetiap kasih sayang itu datang, selalu besertanya “Sapaan Allah”, Aku yang kurang perhatian, kurang bisa memberi, kurang mampu menilai, hanya dari fisik saja, tidak dari kedekatan hati, ternyata dan ternyata mereka peka sekali, mungkin ada beberapa tingkah dan kata yang begitu membuat aku jatuh hati terhadap kalian, aku sebut itu “Sapaan Allah”, sebab dari itu, banyak orang berharap aku lebih dari yang aku miliki sekarang…

Ups, sorry beraku aku  (karena memang ego yang ada didiri ini)..

Baru saja adek mahasiswa datang ke rumahku, dia bilang, “Mbak, jangan beri aku ongkos, karena aku barusan dari Baitul Zakat..!!” ..(Selorohan itu pernah ku jawab”Dek, kalo baru dapat beasiswa dari Baitul Zakat traktir aku yah!!”) eh bener, ketika aku pesan beberapa porsi Baso, tekwan dan mpek mpek,..Dia bilang, “Ngga usah diganti mbak Mimin, itung2 aku traktir keluarga Mbak Mimin..”..Dengan tidak mengurangi rasa hormatku pada dia, aku terima traktirannya dia, sambil berkata, “Tapi jangan sering sering ya dek!!”..

Ada lagi, seorang adek Mahasisiwi yang berkata,..”Teh, Abdi mah teu gaduh anu caket anu kawit ti lembur abdi, nya atuh abdi mah ngiring ka rerencangan Cirebon, mugia diangken dulur ku teteh..!!” (Teh, saya tuh ngga punya yang dekat berasal dari daerah saya makanya ikut teman2 Cirebon, semoga teteh menganggap saya saudara..!!” Aduh geulis, yap kadieu dirawu ku teteh ( aduh cantik, kesini, dipeluk sama teteh)..

Adek2ku kalian memang penyapa untuk dekat dengan Nya..



Renungan Hari Ini
April 8, 2008, 7:17 am
Filed under: Renungan.. | Tags:

sepatu itu“Janganlah Merasa Terhina”

 

Cairo di pertengahan tahun 1999. Seperti biasanya seorang adek Mahasiswa Azhar datang bersilaturrahim ke rumahku. Dia bercerita, tadi ketika dia main ke Makram ‘Abid, sambil menuggu bis lewat, rupanya dia mendengar percakapan dua orang remaja tanggung, dengan membawa tas kresek yang berisi sepatu dan baju yang baru saja mereka beli. Dengan saling memperlihatkan apa yang mereka beli kepada temannya, salah satu dari mereka berkata, ” Saya senang membeli barang di Tauhid Wa Nur, karena harganya murah, terjangkau oleh kalangan bawah!!”, Hal ini ditimpali pula oleh temannya, “Bukan hanya murah, namun barang nya pun kwalitasnya cukup memuaskan!!”..

 

Adek mahasiswa itu dengan mimik dan mata yang berbinar berkata, ” Saya senang dengan keberadaan toko semisal Tauhid Wa Nur yang beda dengan yang lain, mengusung nama Islam, tak malu memperdengarkan Ayat Suci Al Qur’an sepanjang terbukanya pintu toko tersebut. Dan tak malu pula menjadi pioneer toko muslim. Konon katanya keberadaan toko tersebut yang sudah merambah ke seluruh pelosok Mesir, menjadi saingan dari toko yang dimiliki oleh pemerintah. Walau pun harga dari toko pemerintah sudah murah, namun Tauhid Wa Nur bisa menekan lebih banyak lagi dan disenangi oleh lapisan menengah ke bawah.” Aku terpekur mendengarnya.

 

Apakah mungkin ada di Indonesia yang notabene penduduk muslimnya terbesar diseluruh dunia.??

 

Sekilas teringat Firman Allah SWT :

wur (#qãZÎgs? Ÿwur (#qçRtøtrB ãNçFRr&ur tböqn=ôãF{$# bÎ) OçGYä. tûüÏZÏB÷sB ÇÊÌÒÈ

  

139.  Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS Ali Imran 139 )

 

Keberadaan Ekonomi Islam Sangatlah Urgent, Karena mana bisa kita diperhatikan orang kalau ekonomi kita tak kuat!!

 

Mengupas zaman dahulu, ketika Syarikat Dagang Islam mendirikan partainya, apa yang melatarbelakanginya adalah karena bentukan mental aqidah kuat yang memang ingin berekonomi tapi berekonomi secara Islam.

 

Kalau ber Islam maka seluruh yang kita lakukan pun harus memakai cara yang diajarkan agama ini. Tidak asal hantam kromo, atau separuh separuh kita pakai. Kalau kita berbuat apa yang tidak kita mampu, mesti kita rasakan dosa, karena Iman di dada katakan itu. Apalagi bila kita kerjakan dosa, rasa hina ada di rasa, takut akan ancaman Allah SWT pada kita, karena taqwa yang menyerta.

 

Sebaliknya rasa senang terasa ketika berbuat baik, karena Ihsan di dada, Allah SWT tahu semua yang diperbuat, maka timbangan baik akan ada di akherat, terasa begitu nikmat.

 

Bagaimana kita berpikir masalah akherat, bila perut kita memanggil manggil makanan sehat?? Bagaimana kita berpikir sehat, manakala anak-anak kita berteriak sekarat.

 

Ada kaya ada miskin ditebarkan di bumi ini untuk saling berbagi. Maka panggilan untuk berekonomi Islam adalah suatu hal yang penting, karena bila kita cukup,maka belajar pun senang, rumah tangga pun tentram, keluarga pun penuh kasih sayang, masyarakat pun aman, Negara pun damai.

 

Sebentar lagi PEMILU..

Bagaimana kita bisa berpolitik yang bagus, bila rakyat masih belum terurus, akhirnya tujuan politik pun tergerus, siapa yang kaya dialah yang akan menjadi penerus…

 

Terkadang pemerintah pun sangat tidak berpihak, pada kaum lemah yang sepertinya tidak punya hak. Padahal hak mereka untuk mendapatkan Zakat, dari orang orang yang berekonomi kuat.

 

Sembilan tahun telah berlalu, aku susuri sare’ Sudan (Jalan Sudan) dengan ke tiga anakku. Aku bilang mau ke Tauhid Wa Nur, anakku berkata:”Mau apa Ma? Mau beli Vacuum Cleaner yah??” Dia rupanya tahu kalau mamanya lagi pusing karena vacuum cleanernya rusak. “Nggak Nak, cuman mau lihat lihat aja, harganya berapa?” Whualah yang gini ini ibu ngga ada kerjaan cuman lihat lihat doang.!!

 

Coba ke lantai satu, lihat sepatu lucu, pink, dengan hiasan hurup “M”. Akhirnya tertarik lalu beli untuk anak perempuanku. Ku bilang:” Nak, ini bagus, ada huruf M nya, lucuu…”  Anakkau menjawab,:”Lucuu yah, seperti Mc Donald”..Haaah..Oh Oh kok nyambungnya Mc Donald, ya sudah..Padahal lagi berusaha untuk menghindari restoran cepat saji itu yang katanya berapa persen keuntungannya untuk Negara Israel. Ngeri bayangin peluru peluru mereka bersarang di bayi bayi juga orang orang Palestina yang notabene adalah mereka yang terhina terjajah, tanah air mereka dirampas dengan kekuasaan zalim Israel.

 

Sembilan tahun sudah berlalu tentang cerita adek mahasiwa itu, namun hari itu, keesokan harinya, ketika anakku memakai sepatu barunya yang bertitel  “M” untuk sekolah, kurasakan mata ini berembun..

 

Setelah semalaman dia tak mau lepas dengan sepatu barunya itu, di pagi hari kuturuni tangga, kupegang tangannya untuk berjalan, terlihat agak kaku dia berjalan, “Nak, sakit yah kakinya?, kalau sakit lepas aja, ganti yah!” Dia langsung menjawab,:”Ngggaaa, sepatunya bagus, ngga sakit, ..Mc Donald aja..!!!”..Begitu sepanjang jalan.. manakala dia berjalan seperti kaku, kutanya sakit ngga? Langsung dia jawab begitu…

 

Ya Allah Nak..Sepatumu murah, namun kuazamkan diri ini untuk memilihkan di tempat punya orang muslim, punya saudara kita, dada ini sesak mengingat firman Mu.. “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”..

 

Cairo, 17 Maret 2008

Terimakasih Musyaffa Kholil, untuk sebuah cerita yang bagus .

 

Nb: sepatunya dah letek keseringan di pake..