Menghitung Hari…


Wawancara dengan Habiburrahman El Shirazy
March 10, 2008, 10:58 am
Filed under: Uncategorized | Tags:

ceumiminmultiplycom.jpg

Kita mungkin telah kenal dengan sosok yang satu ini, penulis Novel Pembangun Ayat Ayat Cinta. Novel ini pun sudah di filmkan dan bisa kita nikmati di tanah air, mudah-mudahan sebentar lagi sudah ada DVDnya sehingga kita pun bisa menikmatinya tanpa harus membajak karya Sutradara Hanung Bramantyo ini. Memang sangat disayangkan film bagus sekelas Ayat Ayat Cinta ini harus terkotori oleh ulah orang yang ingin mengeruk keuntungan, sebenarnya malah merugikan dirinya sendiri.

Alhamdulillah sebelum ditayangkan film tersebut, di Cairo ini, hadir Habiburrahman El Shirazy, beliau datang sebagai rombongan IKAPI yang ikut dalam  Pameran Buku Internasional yang ke 40. dalam kunjunganya kali ini beliau sempat mengadakan Latihan untuk menulis yang diselenggarakan PPMI di Griya Jateng, juga sempat mengajak warga Cairo untuk Napak Tilas Ayat Ayat Cinta.

Kami sempat mengadakan wawancara pula, sebelum Kang Abik, begitu sapaannya mejadi pembicara dalam Kajian Bulanan yang diselenaggarakan oleh Masjid Indonesia di Cairo ini. Berikut beberapa wawancara yang bisa kami liput:

Tanya (T): Mengapa Tokoh Fahri dan Aisha itu begitu sempurna dalam Novel Ayat Ayat Cinta?

Kang Abik (KA): Saya melihat pertanyaan ini muncul karena by the scene, soalnya lingkungan di sekitar kita, baik di sinetron, atau dimana mana sangat susah untuk mendapati tokoh yang baik, sudah mafhum kalau artis itu rusak. Sehingga ketika saya memunculkan tokoh Fahri, sepertinya dia sempurna. Padahal tidak sempurna sempurna amat. Bahkan ada yang mengkritisi tokoh Fahri ini sebagai orang yang cengeng. Kalau dibandingkan tokoh Fahri ini dengan orang yang ada di sekitar kita, misalnya para pendahulu kita, sangat jauh sekali, karena semangat para tokoh nasional itu sangat luar biasa. Bagaimana Agus Salim yang bisa menguasai 9 Bahasa tanpa mengenyam kuliah, atau Buya Hamka yang pandai berbahasa Arab, juga Pak Karno, bila dibandingkan Fahri itu tidak apa apanya. Pertanyaan itu muncul, kenapa Fahri kok sempurna amat, karena cara pandang kita yang belum mampu untuk melihat.

T : Tokoh Fahri dalam Ayat Ayat Cinta itu apakah merupakan pengalaman Kang Abik sendiri ataukah hanya tokoh rekayasa?

KA : Tokoh Fahri itu merupakan tokoh gabungan dari beberapa tokoh lekatan. Tokoh Lekatan itu aslinya ada dan saya masukkan ke diri Fahri. Contohnya, bisa hafal Al Qur’an, saya lekatkan pada K.H Munawwir Krapyak. Hampir seluruh pesantren yang ada di Jawa berguru kepada Kyai Munawwir Krapyak di Yogya ini. Beliau belajar ke Mekkah dan akhirnya bisa Qira’ah Sab’ah. Sedangkan tokoh orang Desa yang tidak minder ketika ke Kota, ia adalah Syaikh Abdul Halim Mahmud. Beliau adalah orang desa, oleh ayahnya yang cinta dengan agama ini, menyekolahkan Abdul Halim di Al Azhar dari Sd sampai Aliyah, hafal AL Qur’an umur 10 thn, lalu kuliah di Kota ini yaitu Cairo. Di Al Azhar lulus terbaik di Fakultasnya yaitu Filsafat. Karena Lulus terbaik beliau mendapat beasiswa di Universitas Sorbonne. Abdul Halim tidak bisa berbahasa Perancis, oleh Professornya disodorkan mahasiswinya yang kebetulan mau berbahasa Arab karena kuliah yang diambilnya, mengharuskan dia bisa berbahasa Arab. Tapi Abdul Halim tidak mau dan pindah ke tempat yang jauh dari Universitas Sorbonne, sehingga bisa menghemat uang kost, dan bisa ambil kursus, 3 bulan kemudian beliau sudah menghadap Profesornya bisa berbahasa Perancis tanpa perlu belajar dengan mahasiswi yang disodorkan oleh Profesornya itu. Suatu keteguhan memgang Syariat. Pulang ke Mesir, beliau menjadi Dekan dan akhirnya menjadi Grand Syaikh Al Azhar. Jika dibandingkan Fahri jelas sangat jauh. Betul memang sama Kyai Munawwir belajar Qira’ah sama dengan Fhari dan juga tidak mendapat bea siwa, bekerja sendiri, tapi masa itu Mekkah belum ada peminyakan seperti sekarang, Betul memang Fahri bisa hafal Al Qur’an, dan juga bisa sholat berjama’ah tapi kan di Mesir yang semuanya orang Arab dan gampang untuk pergi ke Masjid, bandingkan dengan Abdul Halim yang harus kuat menjaga syari’atnya.

T : Sejauh mana visi Kang Abik mengembangkan sastra yg education oriented dan sesuai dengan budaya Islam?. Bila suatu saat dg karyanya yg bervisi di atas ternyata tidak sukses di Pasar, apakah akan beralih orientasi yg sesuai selera pasar?

KA : Saya menulis tidak semata-mata untuk cari uang, semata – mata untuk dapat uang, saya sangat percaya dengan firman Allah SWT, Intansurulloh Yansurkum, Jika kamu menolong Allah SWT maka Alloh akan menolong kamu. Ketika kita memikirkan Alloh maka Alloh akan memikirkan kita. Ketika saya menulis Ayat Ayat Cinta, Wallahi, saya tidak membayangkan akan bisa meledak seperti sekarang. Sampai ditulis oleh majalah SWA tentang royaltinya sekian dan sebagainya. Saya tidak pernah membayangkan itu. Saya hanya ketika menulis itu, saya niatnya hanya saya akan menulis sebuah karya, yang saat itu di Indonesia, banyak karya – karya yang saya lihat merusak, saya menulis yah mungkin alternatif karya itu.

Kemudian saat itu kan, agama yang mulia ini sedang banyak dikecam, saya mendudukan persoalan-persoalan agama ini. Kalau saya menulis dalam buku Ilmiah kok kayaknya tidak akan dibaca orang. Maka saya masukan dalam novel, dalam percakapan yang mengalir, tentang misalnya kedudukan perempuan dalam Islam. Buku sudah banyak, tapi sering sekali orang memandang sebelah mata dengan Islam. Maka saya bikin novel Ayat Ayat Cinta itu. Niatnya hanya itu..awalnya dari itu.

Yang lebih dari itu saya niatnya, dalam bagian yang terakhir Ayat Ayat Cinta itu saya mengajak orang untuk ber-Tauhid. Jujur saya katakan itu..Karena saya habis kecelakaan, batas antara hidup dan mati itu tipis sekali, wong saya kecelakaan, kaki patah , lalu ke rumah sakit. Betapa banyak orang yang kecelakaan lalu ‘Alatul (langsung), bablas sampai akherat. Itu saya masih melihat dunia itu, saya merasa bahwa nyawa itu memang titipan betul. Kemudian saya teringat, Lah saya belum ngapa-ngapain, paling tidak saya menulis mengajak orang untuk ber – Tauhid. Terserah apa kata orang, misalnya dianggap keras atau sangar dan sebagainya. Saya hanya mengatakan yang menurut saya benar. Maka Maria tetap masuk Islam, dia harus masuk Islam, harus dipaksa Islam. Awalnya harus mengakui bahwa Islam ini benar, tapi kan harus melalui sebuah perjalanan panjang yang tidak terasa ke arah sana. Yang kira-kira kalau orang kristen baca itu ngga marah. Dan buktinya Alhamdulillah sampai sekarang orang kristen itu tidak marah. Saya pernah baca e mail, “saya itu sebenarnya sudah pengen, cuman takut sama orang tua saya,..”
Kedepan misalnya itu tidak laku,.. Ulama dulu mengajarkan, sampai beliau meninggal karyanya tidak dibaca orang, ketika meninggal karyanya baru dibaca orang, dicetak, baru dibaca oleh kita juga..”

T : Bagaimana Kang Abik membagi waktu dengan keluarga karena kesibukan nya yang amat sangat itu?

KA : Sebisa mungkin ada waktu untuk keluarga, bukan kuantitas tapi kualitas. Pernah ketika di Malaysia saya menelpon langsung kawan saya di Indonesia untuk mencari hotel di Solo, karena waktu saya hanya dua hari, oleh sebab itu saya pergunakan semaksimal mungkin untuk keluarga. Lalu saya telpon keluarga untuk langsung menuju hotel yang dituju, juga tak lupa untuk mengajak Pak Dhe, agar sekalian berlibur di Solo..”

T: Apakah Novel ini sudah diterjemahkan ke bahasa lain??

KA : Sedang dalam proses diterjemahkan ke bahasa Inggris, yang sedang dilakukan di Canada.

T: Apakah ada kekhawatiran akan mengubah rasa, ketika diterjemahkan ke bahasa lain.

KA : Kekhawatiran itu selalu ada. bahkan hal kekhawatiran itu juga muncul ketika Novel ini difilmkan, tapi bila tidak demikian kita tidak akan melangkah lebih maju lagi.

T: Apakah ketika menyerahkan Nonel Ayat Ayat Cinta ini ke Produser, sesudah itu Kang Abik lepas begitu saja?

KA : Tidak, saya tetap mengawalnya dari awal sampai akhir, bila ada yang kurang sreg saya lontarkan, bersama Pak Din Syamsudin, melihat film kasarnya dan memberikan masukan. Apalagi Imajinasi itu lebih luas dari visual. Antara yang satu dengan yang lain akan berbeda untuk menvisualkan Fahri itu seperti apa. Jadi lebih luas. Kekuatan buku itu terasa lebih dibandingkan filmnya. Karena tidak semuaorang pembaca Harry Potter akan puas ketika melihat Film Harry Potter. Seperti saya juga ketika masih kecil senang mendengarkan Drama Radio Saur Sepuh, ketika difilmkan itu, saya kecewa, kok Mantili jelek, tak secantik dengan yang saya bayangkan, juga ajian serat jiwanya ngga sekuat dan sehebat denga yang saya bayangkan. Karena memang kekuatan Imajinasi itu lebih luas dari Visual.

T : Apa pesan Kang Abik untuk Ibu – ibu pengajian ini agar mampu menulis, atau trik trik apa yang bisa kita lakukan uantuk mampu menulis cerpen dan sebagainya??

KA : Sebenarnya pekerjaan penulis itu merupakan pekerjaan yang pas untuk ibu, karena tidak terikat dengan jam dan waktu kerja. Sampai tetangga saya pun tidak tahu kalau pekerjaan saya itu menulis, karena saya sering ada di rumah. Untuk mampu menulis, bayangkan menulis itu seperti memasak, ketika memasak perlu bumbu bumbu apa kita harus tahu, kurang apa kita harus tahu, bila sudah terbiasa, tak perlu ragu lagi. Maka begitu juga dengan menulis butuh banyak latihan, bila jam terbangnya tinggi, maka akan mudah untuk menulis. Ada orang yang memang tidak mampu menulis, tapi dia bercerita itu gampang, maka agar ia mampu menulis, caranya dengan direkam, baru apa yang dia dengar dari rekamannya itu lalu ditulisnya dalam bentuk tulisan dengan menambah dan mengurangi.

T : Bagaimana kita mampu bercerita?

KA : Sebenarnya ibu ibu malah orang yang mestinya pandai bercerita, ketika mau tidur, bercerita kisah para Nabi, akan memberikan kesan lain terhadap si anak, sehingga mampu menguat dalam dirinya nilai nilai moral yang disampaikan. Agar mampu untuk itu, maka berlatihlah, tentu ditambah bumbu2nya..dan mulailah.. Pada zaman dahulu kala….

T: Bagaimana pendapat Kang Abik tenang minat Baca Bangsa Indonesia..

KA : Minat baca ini sampai sekarang belum habis diseminarkan, karena sangat menarik dan begitu minimnya bangsa ini untuk membaca. Apalagi dibandingkan Jepang. Memang menurut statistik minat baca kita masih rendah sekali, karena berdasarkan per kapita banyaknya penduduk yang ada di Indonesia. Bahkan menurut DR Saparudin AM, kita adalah terendah di Asia tenggara. Sangat jauh sekali dibandingkan Jepang, mereka misalnya per orangnya bisa baca per hari 3 koran, sementara kita 100 orang hanya bisa baca 1 koran..

Terimakasih Kang Abik, moga kiprah anda membangun bangsa ini untuk lebih maju.

Rekaman Wawancaranya ada di youtube: http://www.youtube.com/user/ceumimin juga bisa dibaca liputannya di http://ceumimin.multiply.com/


2 Comments so far
Leave a comment

Assalamu’alaikum,.

Honestly,
awalnya Saya tidak terlalu mencintai novel, terutama novel islami, karna menurut saya ceritanya seolah terkesan sudah bisa ditebak endingnya,..

singkat kata, setelah saya tahu filmnya,.
saya kemudian baca juga novelnya

It’s So Great Novel,..

I Love It,..
dan SALLLLLLUUUUTTTT buat Kang Abik

Semoga Akan Selalu tetep berkarya di jalan dakwah ini.

Amieeen,.,..

Wassalamu’alaikum,.wr,.wb

Comment by Fitri Yenny

wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuhu..
Semoga ya mbak..
Amin Allohumma Amin…

Comment by mintarsih69




Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>