Menghitung Hari…


LPIT BIAS (Bina Anak Sholeh)
March 10, 2008, 11:41 am
Filed under: Uncategorized | Tags:
Kehadiran Pendidikan yang Mengusung Akhlak Anak Bangsa sangat Urgent, maka hal itu yang menjadi PR bagi kita semua selaku pemerhati umat, pelaku dalam kehidupan ini, mempunyai generasi yang mesti diselamatkan. Kata kawan saya, “Jangan munafik, ngomongin orang lain aja, lihat borok di umat Islam sendiri, banyak yang mengusung nama Islam namun bejat,!!”, sengaja replay dia tidak saya delete, karena apa? Dia begitu perhatian terhadap yang sekecil itu, ketika kita bicara akhlak umat Islam di Indonesia yang tergerus oleh budaya bangsa lain, dia menuturkan hal yang mestinya pedih untuk kita, namun itulah kenyataan. Lalu bagaimana kita?? Itulah PR kita ngga hanya sekedar ngomong aja tentang ini jelek namun tidak ada reaksi bagaimana untuk merubahnya. Hendaknya kita berusaha untuk memunculkan usaha bukan sekedar ide untuk bangsa ini. Saya kupaskan sedikit yang saya alami, dan sekarang masih dijalani oleh kawan kawan seperjuangan kita di Indonesia untuk menyelamatkan bangsa ini. Saya tidak ikut serta berperan lagi, setidaknya bagi yang lain bisa dijadikan kekuatan untuk membangun akhlak bangsa ini yang lebih baik lagi..Beberapa tahun belakangan ini kita mengenal Lembaga Pendidikan Islam Terpadu. Banyak orang yang mempertanyakan mau dibawa ke mana anak anak yang memasuki pendidikan yang seperti itu? Bukan suatu hal yang mengherankan memang, ketika masa tahun 1990 an , masa pentarbiyahan mulai diusung dari muali anak anak kecil yang mempelajari Al Qur’an secara cepat dan lancar juga benar, yang kita kenal dengan lembaga TPA. Kemunculan itu tidak lepas dari jasa para pendahulu kita, yang berusaha untuk mengenalkan kepada anak anak dengan kitab sucinya secara cepat, tidak mengikuti metode otang tua kita zaman dulu yang berasa lama dan membosankan. Dengan diberi pendidikan sambil bermain dan bernyanyi merupakan metode tepat yang bisa diajakan kepada anak anak..

Saya ingat dahulu bersama teman teman KPAQ (Kelompok Pengajian Al Qur’an) Yogyakarta , mulai merintis pemahaman untuk mengenalkan Al Qur’an, yang tentu ini tidak sekedar bisa baca namun faham, karena ketidakinginan kita ketika Al Qur’an hanya sekedar wirid wirid atau jampi jampi yang tidak berjiwa dalam kehidupan keseharian mereka. Sungguh alot mengenalkan metoda ini kepada anak anak apalagi kepada masyarakat. Setiap bacaan dan hafalan berusaha direflesikan dalam kehidupan keseharian mereka, dengan cara diskusi yang sunguh seru, karena ternyata masyarakat sudah anggap biasa hal tersebut. Bahas TV, Bahas Film, Bahas dukun, Bahas Klenik2, ternyata anak2 pun terimbas akan pemahaman dari ayah bundanya, bahwa itu boleh, ini tidak apa apa, waduh mau dibawa kemana aqidah mereka kalau begini…

Saya melihat sendiri bagaimana kawan kawan seperjuangan membahas kurikulum yang mau dipakai dalam TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an) sementara cabang kami yang di Gembong asuhan Pak Abdul Kholik dan Bu Yanti memakai TPQ (Taman Pendidikan Qur’an) karena disamping mereka berdiri pula TPA (Taman Pendidikan Al Kitab). Kawan kawan saya yang punya basic kuliah IKIP YOGYAKARTA sangat trampil untuk membuat kurikulum sehingga dibuat fleksibel sekaligus dengan uraian dan target pencapaian yang diharapkan..Itupun dikerjakan sangat alot, dan sering berubah ubah, karena prinsip kami kurikulum selalu berubah sesuai dengan tuntutan zaman.

Itu dulu…

Sekarang sudah menjadi lembaga pendidikan yang diberi nama Lembaga Pendidikan Islam Terpadu Bina Anak Sholeh, suatu lembaga yang sudah lama berdirinya, dan sekarang sudah mempunyai cabang yang banyak di berbagai daerah, karena keterkaitan kami dengan pengajian Tafsir yang diadakan untuk memahami Al Qur’an dan merefleksikannya dalam kehidupan sehari hari. Setelah awal pembentukan Toko Swalayan Muslim ASSHIROT, lalu Bank syariah pun di buat untuk mengembangkan ekonomi Islam, maka dibidang pendidikan pun, PG (Play Group). TKIT (Taman Kanak kanank Islam Terpadu), SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu), SMPIT (Sekolah Menengah Islam Terpadu) dan baru tahun kemarin Maret 2007 mempunyai SMAIT yang masih difocuskan di PATI sebagai pusat dari kegiatan, seiring pula dengan pembangunan Pesantren Muwwahid, suatu perjalanan yang masih panjang karena target adalah tahun 2030, kita memiliki generasi Islam yang berwawasan Internasional..

Maka LPIT Bina Anak Sholeh pun mengusung pesan SIBI (SEKOLAH ISLAM BERWAWASAN INTERNASIONAL)

Penekanan Aqidah sangat diutamakan, karena dengan aqidah yang lurus maka jalan ke arah surga akan bisa kita raih. Perjalanan masih panjang, maka dukungan dari berbagai pihak pun sangat dibutuhkan. Maka LPIT ini pun bergabung dengan masyarakat menerima shodaqoh, infaq dan zakat untuk disalurkan sebagaimana mestinya. Dan seperti kemarin saya berkunjung ke rumah Ibu Lilik Indriati, Direktur LPIT Yogya, “Semua ini karena bermainnya Tangan Allah SWT, karena kalau bukan atas kekuasaan Nya, semua apa yang kita jalankan tidak akan bisa diraih..

Ada beberapa cabang LPIT BINA ANAK SHOLEH, yang mungkin berguna bagi anda:

1. Yogya PGIT/TKIT/SDIT/SMPIT Bina Anak Sholeh, Jln. Sisingamangaraja 69 telp 0274-388422 Fax 0274-374773

2. Pati PGTIT/TKIT/MIT/SMPIT/ Ya Ummi Fatimah, Jln. Diponegoro 155 telp. 0295-5505500

3. Klaten PGIT/TKIT/SDIT Bina Anka Sholeh Jln. Melati 18 Mlijon Klaten Telp 0272-322361

4. Gombong PGIT/TKIT/SDIT Ath Thoriq Jln. Wilis 13 Wero Telp. 0287-473192

5. Cilacap PGIT/TKIT/SDIT Bina Anak Sholeh Jln Masjid S telp. 0282-531911

6. Cilacap PGIT/TKIT/SDIT As Sakinah jln. Bisma 50 Telp. 0282-548005

7. Tegal PGIT/TKIT/SDIT Bina Anak Sholeh Jln. Dadali 12 telp. 0283-3307092

8. Merger Magelang Temanggung PGIT/TKIT/SDIT Bina Anak Sholeh Jln. Sunan Kalijaga 13 Karet telp. 0293-362036

9. Semarang PGIT/TKIT Bina Anak Sholeh Jln Wahyu Temurun X Blok B Perum Tlogosari Telp. 024-6724838

10. Kudus PGIT/TKIT Ya Ummi Fatimah Jln Ali Mahmudi telp. 0291-3301315



Wawancara dengan Habiburrahman El Shirazy
March 10, 2008, 10:58 am
Filed under: Uncategorized | Tags:

ceumiminmultiplycom.jpg

Kita mungkin telah kenal dengan sosok yang satu ini, penulis Novel Pembangun Ayat Ayat Cinta. Novel ini pun sudah di filmkan dan bisa kita nikmati di tanah air, mudah-mudahan sebentar lagi sudah ada DVDnya sehingga kita pun bisa menikmatinya tanpa harus membajak karya Sutradara Hanung Bramantyo ini. Memang sangat disayangkan film bagus sekelas Ayat Ayat Cinta ini harus terkotori oleh ulah orang yang ingin mengeruk keuntungan, sebenarnya malah merugikan dirinya sendiri.

Alhamdulillah sebelum ditayangkan film tersebut, di Cairo ini, hadir Habiburrahman El Shirazy, beliau datang sebagai rombongan IKAPI yang ikut dalam  Pameran Buku Internasional yang ke 40. dalam kunjunganya kali ini beliau sempat mengadakan Latihan untuk menulis yang diselenggarakan PPMI di Griya Jateng, juga sempat mengajak warga Cairo untuk Napak Tilas Ayat Ayat Cinta.

Kami sempat mengadakan wawancara pula, sebelum Kang Abik, begitu sapaannya mejadi pembicara dalam Kajian Bulanan yang diselenaggarakan oleh Masjid Indonesia di Cairo ini. Berikut beberapa wawancara yang bisa kami liput:

Tanya (T): Mengapa Tokoh Fahri dan Aisha itu begitu sempurna dalam Novel Ayat Ayat Cinta?

Kang Abik (KA): Saya melihat pertanyaan ini muncul karena by the scene, soalnya lingkungan di sekitar kita, baik di sinetron, atau dimana mana sangat susah untuk mendapati tokoh yang baik, sudah mafhum kalau artis itu rusak. Sehingga ketika saya memunculkan tokoh Fahri, sepertinya dia sempurna. Padahal tidak sempurna sempurna amat. Bahkan ada yang mengkritisi tokoh Fahri ini sebagai orang yang cengeng. Kalau dibandingkan tokoh Fahri ini dengan orang yang ada di sekitar kita, misalnya para pendahulu kita, sangat jauh sekali, karena semangat para tokoh nasional itu sangat luar biasa. Bagaimana Agus Salim yang bisa menguasai 9 Bahasa tanpa mengenyam kuliah, atau Buya Hamka yang pandai berbahasa Arab, juga Pak Karno, bila dibandingkan Fahri itu tidak apa apanya. Pertanyaan itu muncul, kenapa Fahri kok sempurna amat, karena cara pandang kita yang belum mampu untuk melihat.

T : Tokoh Fahri dalam Ayat Ayat Cinta itu apakah merupakan pengalaman Kang Abik sendiri ataukah hanya tokoh rekayasa?

KA : Tokoh Fahri itu merupakan tokoh gabungan dari beberapa tokoh lekatan. Tokoh Lekatan itu aslinya ada dan saya masukkan ke diri Fahri. Contohnya, bisa hafal Al Qur’an, saya lekatkan pada K.H Munawwir Krapyak. Hampir seluruh pesantren yang ada di Jawa berguru kepada Kyai Munawwir Krapyak di Yogya ini. Beliau belajar ke Mekkah dan akhirnya bisa Qira’ah Sab’ah. Sedangkan tokoh orang Desa yang tidak minder ketika ke Kota, ia adalah Syaikh Abdul Halim Mahmud. Beliau adalah orang desa, oleh ayahnya yang cinta dengan agama ini, menyekolahkan Abdul Halim di Al Azhar dari Sd sampai Aliyah, hafal AL Qur’an umur 10 thn, lalu kuliah di Kota ini yaitu Cairo. Di Al Azhar lulus terbaik di Fakultasnya yaitu Filsafat. Karena Lulus terbaik beliau mendapat beasiswa di Universitas Sorbonne. Abdul Halim tidak bisa berbahasa Perancis, oleh Professornya disodorkan mahasiswinya yang kebetulan mau berbahasa Arab karena kuliah yang diambilnya, mengharuskan dia bisa berbahasa Arab. Tapi Abdul Halim tidak mau dan pindah ke tempat yang jauh dari Universitas Sorbonne, sehingga bisa menghemat uang kost, dan bisa ambil kursus, 3 bulan kemudian beliau sudah menghadap Profesornya bisa berbahasa Perancis tanpa perlu belajar dengan mahasiswi yang disodorkan oleh Profesornya itu. Suatu keteguhan memgang Syariat. Pulang ke Mesir, beliau menjadi Dekan dan akhirnya menjadi Grand Syaikh Al Azhar. Jika dibandingkan Fahri jelas sangat jauh. Betul memang sama Kyai Munawwir belajar Qira’ah sama dengan Fhari dan juga tidak mendapat bea siwa, bekerja sendiri, tapi masa itu Mekkah belum ada peminyakan seperti sekarang, Betul memang Fahri bisa hafal Al Qur’an, dan juga bisa sholat berjama’ah tapi kan di Mesir yang semuanya orang Arab dan gampang untuk pergi ke Masjid, bandingkan dengan Abdul Halim yang harus kuat menjaga syari’atnya.

T : Sejauh mana visi Kang Abik mengembangkan sastra yg education oriented dan sesuai dengan budaya Islam?. Bila suatu saat dg karyanya yg bervisi di atas ternyata tidak sukses di Pasar, apakah akan beralih orientasi yg sesuai selera pasar?

KA : Saya menulis tidak semata-mata untuk cari uang, semata – mata untuk dapat uang, saya sangat percaya dengan firman Allah SWT, Intansurulloh Yansurkum, Jika kamu menolong Allah SWT maka Alloh akan menolong kamu. Ketika kita memikirkan Alloh maka Alloh akan memikirkan kita. Ketika saya menulis Ayat Ayat Cinta, Wallahi, saya tidak membayangkan akan bisa meledak seperti sekarang. Sampai ditulis oleh majalah SWA tentang royaltinya sekian dan sebagainya. Saya tidak pernah membayangkan itu. Saya hanya ketika menulis itu, saya niatnya hanya saya akan menulis sebuah karya, yang saat itu di Indonesia, banyak karya – karya yang saya lihat merusak, saya menulis yah mungkin alternatif karya itu.

Kemudian saat itu kan, agama yang mulia ini sedang banyak dikecam, saya mendudukan persoalan-persoalan agama ini. Kalau saya menulis dalam buku Ilmiah kok kayaknya tidak akan dibaca orang. Maka saya masukan dalam novel, dalam percakapan yang mengalir, tentang misalnya kedudukan perempuan dalam Islam. Buku sudah banyak, tapi sering sekali orang memandang sebelah mata dengan Islam. Maka saya bikin novel Ayat Ayat Cinta itu. Niatnya hanya itu..awalnya dari itu.

Yang lebih dari itu saya niatnya, dalam bagian yang terakhir Ayat Ayat Cinta itu saya mengajak orang untuk ber-Tauhid. Jujur saya katakan itu..Karena saya habis kecelakaan, batas antara hidup dan mati itu tipis sekali, wong saya kecelakaan, kaki patah , lalu ke rumah sakit. Betapa banyak orang yang kecelakaan lalu ‘Alatul (langsung), bablas sampai akherat. Itu saya masih melihat dunia itu, saya merasa bahwa nyawa itu memang titipan betul. Kemudian saya teringat, Lah saya belum ngapa-ngapain, paling tidak saya menulis mengajak orang untuk ber – Tauhid. Terserah apa kata orang, misalnya dianggap keras atau sangar dan sebagainya. Saya hanya mengatakan yang menurut saya benar. Maka Maria tetap masuk Islam, dia harus masuk Islam, harus dipaksa Islam. Awalnya harus mengakui bahwa Islam ini benar, tapi kan harus melalui sebuah perjalanan panjang yang tidak terasa ke arah sana. Yang kira-kira kalau orang kristen baca itu ngga marah. Dan buktinya Alhamdulillah sampai sekarang orang kristen itu tidak marah. Saya pernah baca e mail, “saya itu sebenarnya sudah pengen, cuman takut sama orang tua saya,..”
Kedepan misalnya itu tidak laku,.. Ulama dulu mengajarkan, sampai beliau meninggal karyanya tidak dibaca orang, ketika meninggal karyanya baru dibaca orang, dicetak, baru dibaca oleh kita juga..”

T : Bagaimana Kang Abik membagi waktu dengan keluarga karena kesibukan nya yang amat sangat itu?

KA : Sebisa mungkin ada waktu untuk keluarga, bukan kuantitas tapi kualitas. Pernah ketika di Malaysia saya menelpon langsung kawan saya di Indonesia untuk mencari hotel di Solo, karena waktu saya hanya dua hari, oleh sebab itu saya pergunakan semaksimal mungkin untuk keluarga. Lalu saya telpon keluarga untuk langsung menuju hotel yang dituju, juga tak lupa untuk mengajak Pak Dhe, agar sekalian berlibur di Solo..”

T: Apakah Novel ini sudah diterjemahkan ke bahasa lain??

KA : Sedang dalam proses diterjemahkan ke bahasa Inggris, yang sedang dilakukan di Canada.

T: Apakah ada kekhawatiran akan mengubah rasa, ketika diterjemahkan ke bahasa lain.

KA : Kekhawatiran itu selalu ada. bahkan hal kekhawatiran itu juga muncul ketika Novel ini difilmkan, tapi bila tidak demikian kita tidak akan melangkah lebih maju lagi.

T: Apakah ketika menyerahkan Nonel Ayat Ayat Cinta ini ke Produser, sesudah itu Kang Abik lepas begitu saja?

KA : Tidak, saya tetap mengawalnya dari awal sampai akhir, bila ada yang kurang sreg saya lontarkan, bersama Pak Din Syamsudin, melihat film kasarnya dan memberikan masukan. Apalagi Imajinasi itu lebih luas dari visual. Antara yang satu dengan yang lain akan berbeda untuk menvisualkan Fahri itu seperti apa. Jadi lebih luas. Kekuatan buku itu terasa lebih dibandingkan filmnya. Karena tidak semuaorang pembaca Harry Potter akan puas ketika melihat Film Harry Potter. Seperti saya juga ketika masih kecil senang mendengarkan Drama Radio Saur Sepuh, ketika difilmkan itu, saya kecewa, kok Mantili jelek, tak secantik dengan yang saya bayangkan, juga ajian serat jiwanya ngga sekuat dan sehebat denga yang saya bayangkan. Karena memang kekuatan Imajinasi itu lebih luas dari Visual.

T : Apa pesan Kang Abik untuk Ibu – ibu pengajian ini agar mampu menulis, atau trik trik apa yang bisa kita lakukan uantuk mampu menulis cerpen dan sebagainya??

KA : Sebenarnya pekerjaan penulis itu merupakan pekerjaan yang pas untuk ibu, karena tidak terikat dengan jam dan waktu kerja. Sampai tetangga saya pun tidak tahu kalau pekerjaan saya itu menulis, karena saya sering ada di rumah. Untuk mampu menulis, bayangkan menulis itu seperti memasak, ketika memasak perlu bumbu bumbu apa kita harus tahu, kurang apa kita harus tahu, bila sudah terbiasa, tak perlu ragu lagi. Maka begitu juga dengan menulis butuh banyak latihan, bila jam terbangnya tinggi, maka akan mudah untuk menulis. Ada orang yang memang tidak mampu menulis, tapi dia bercerita itu gampang, maka agar ia mampu menulis, caranya dengan direkam, baru apa yang dia dengar dari rekamannya itu lalu ditulisnya dalam bentuk tulisan dengan menambah dan mengurangi.

T : Bagaimana kita mampu bercerita?

KA : Sebenarnya ibu ibu malah orang yang mestinya pandai bercerita, ketika mau tidur, bercerita kisah para Nabi, akan memberikan kesan lain terhadap si anak, sehingga mampu menguat dalam dirinya nilai nilai moral yang disampaikan. Agar mampu untuk itu, maka berlatihlah, tentu ditambah bumbu2nya..dan mulailah.. Pada zaman dahulu kala….

T: Bagaimana pendapat Kang Abik tenang minat Baca Bangsa Indonesia..

KA : Minat baca ini sampai sekarang belum habis diseminarkan, karena sangat menarik dan begitu minimnya bangsa ini untuk membaca. Apalagi dibandingkan Jepang. Memang menurut statistik minat baca kita masih rendah sekali, karena berdasarkan per kapita banyaknya penduduk yang ada di Indonesia. Bahkan menurut DR Saparudin AM, kita adalah terendah di Asia tenggara. Sangat jauh sekali dibandingkan Jepang, mereka misalnya per orangnya bisa baca per hari 3 koran, sementara kita 100 orang hanya bisa baca 1 koran..

Terimakasih Kang Abik, moga kiprah anda membangun bangsa ini untuk lebih maju.

Rekaman Wawancaranya ada di youtube: http://www.youtube.com/user/ceumimin juga bisa dibaca liputannya di http://ceumimin.multiply.com/



Liputan bersama Gita Gutawa..
March 9, 2008, 3:04 pm
Filed under: Liputan | Tags:

mintarsih69wordpresscom.jpg

Pada tanggal 29 Januari 2008, Gita Gutawa beserta rombongan. Yang terdiri dari keluarganya (Pak Erwin Gutawa dan Ibu Lulu Gutawa) dan ditemani oleh Pak Chris Pattikawa yang kebetulan bertugas sebagai juri dalam Festival itu..

Festival yang diikuti oleh Gita Gutawa adalah International Nile Song Festival yang ke 6, yang dalam Bahasa Arab dikenal Mahrajan Nile Dauli Assadisa lil Ughnia al tifl. Penyelenggaraan ini bekerjasama dengan UNESCO. Dalam Festival ini Gita Gutawa membawakan lagu To be One karya Budi Bachtiar dan Ria Leimena yang diarransement oleh Erwin Gutawa (papanya Gita) dan performance Gita tampil waktu festival di design Custome oleh Ibunya Gita yaitu Ibu Lulu Adriyani Gutawa.

Sangat menakjubkan prestasi Gita saat itu, karena dengan kapasitasnya yang baru pertama kali mengikuti festival namun bisa menyabet gelar Grand Prize, tebaik untuk semua kategori. Pantaslah kita banggakan keberadaannya, seorang duta bangsa mengangkat nama Indonesia di kancah  Laga International. Sampai-sampai Bapak Dubes AM Fachir pun mengadakan Malam Apresiasi Prestasi Gita Gutawa. untuk mensyukuri kemenangan ini, yang dikatakan beliau juga kemenangan untuk bangsa Indonesia, sehingga sangat pantas kita mengadakan acara ini karena jasa Gita sebagai Duta Bangsa di Bidang kebudayaan.

Malam Apresiasi Prestasi Gita Gutawa, diselenggarakan  malam Senin kemarin tanggal 4 Februari 2008, KBRI Cairo mengadakan Syukuran atas Kemenangan Gita Gutawa meraih Grand Prize untuk semua kategori terbaik di International Nile Song Festival..

Hadiah diberikan langsung oleh Ibu Negara Madame Susan Mubarak pada Malam Minggu 3 februari 2008, dan dalam penerimaan hadiah tersebut, Gita diberi ucapan selamat, Mdm. Susan Mubarak berucap,”Wah banyak juga ya teman2 kamu disini..”, Maklum supporter anak – anak SIC, setia mendampingi Gita untuk memberikan semangat kepadanya.. Begitu juga ucapan Pak Erwin Gutawa yang menyatakan, ” Setiap teriakan dari supporter seakan menambah power 1 db suara Gita!!”

Malam Apresiasi Prestasi diawali wawancara, yang hanya berlangsung beberapa menit, terburu acara sudah dimulai. Apreasiasi untuk kemenangan Gita Gutawa diselenggarakan di Wisma Duta, sengaja Pak Dubes mengadakannya di rumah kediamannya untuk menghormati dan menghargai duta bangsa di bidang kebudayaan ini. Slide show tentang Gita dan keluarga serta prestasi juga malam ketika tampil di ajang international itu, lalu pemotongan tumpeng, tanya jawab kepada Gita Gutawa juga Papa dan Mamanya dan terakhir Gita menghadirkan dua buah lagu juga bagi2 CD yg sudah ditanda-tanganinya..

Ada beberapa hal yang bisa dicatat dari kedatangan Gita Gutawa ke Cairo ini, banyak sekali yang bisa diambil dari keberadaan Gita dan kemenangan yang diraihnya. Setidaknya dari acara ini, bisa kita tahu banyak apa dibalik kemenangan yang telah diraih Gita Gutawa. Gita, menurut Erwin Gutawa tidak mengikuti alur musik kebanyakan yang lain, karena timbre yang dia punyai lain dengan penyanyi semisal penyanyi dangdut atau penyanyi  pop atau genre yang lainnya.  Karena Alloh SWT berikan kelebihan masing-masing tanpa mengurangi penghormatan kepada genre yang lain yang berbeda dengan Gita. Hal ini dinyatakan Erwin Gutawa ketika ada pertanyaan kenapa Gita tidak memilih dangdut atau Qosidah?

Ketertatikan Gita Gutawa pada olah vokal ini ternyata tumbuh ketika kelas 2 SD melihat tayangan opera di TV, lalu menanyakan pada papanya, dan oleh Erwin diarahkan dengan memberikan guru khusus untuk Gita. Begitu juga dengan piano, sejak dini Gita sudah dikenalkan dengan alat musik ini, namun untuk selajutnya setelah Gita senang dan menyukainya, Erwin memberikan guru khusus lagi untuk puterinya ini, tidak menanganinya secara langsung tapi tetap mengarahkan dan melihat perkembangan. Karena menurut Erwin sendiri, ada memang ketakutan dalam dirinya untuk anaknya ini, masa seorang musisi seperti dia, tidak mempunyai anak yang tidak mencintai musik, maka sejak kecil sudah diupayai semenjak kandungan ibunya, diletakkan headphone di perut sang ibu. Dan menurut Erwin siapa pun orangnya bila orang itu mempunyai jiwa senang seni atau musik maka dia akan lebih baik dari orang yang tidak mencintai seni atau musik. Dimana pun posisinya dia, apakah dia seorang dokter atau seorang dubes sekali pun. Akan lain menangani hidupnya bila dia senang dengan seni.

Ibu Lulu Gutawa pun ketika ditanya apa trik trik untuk melatih seorang anak sehingga bisa berprestasi, tak ada cara tertentu hanya kedisiplinan dan terutama do’a dan kasih sayang dari orang tua, beliau terharu dengan sikap Ibu Yasmin Fachir yang sampai tahajud untuk bantu do’a Gita. Karena memang benar hanya dengan do’a dan kasih sayang kita bisa mengantarkan anak kita keprestasi.

Gita sendiri ketika ditanya perasaannya dia mendapat kemenangan ini, sangat senang dan berterimakasih kepada semuanya yang dukung dia selama ini, support dari teman-teman SIC selama di Cairo, juga pihak KBRI yang membantu kelancaran dia dalam mengikuti festival ini. Sungguh amat membaggakan dia, dan merupakan kejuaraan yang pertama kali diikuti yang ada jurinya, walau pun sebelumnya sudah pernah diikuti bersama2 teman teman paduan suaranya. Dan Alhamdulilllah bisa dimenangkannya, dengan mendapat hasil yang terbaik, walau pun sebenarnya kejuaraan ini harusnya diikuti oleh dia setahun yang lalu, namun karena suatu hal baru terlaksana tahun ini.

Gita Gutawa, dalam mempersiapkan untuk festival ini sekitar 2 – 3 bulan, dibimbing khusus oleh seorang guru intensif setiap hari, karena kesibukan Erwin, dia hanya melihat perkembangan anaknya ini dalam kematangan untuk Festival. Namun dengan persiapan yang seperti itu ternyata Gita mampu meraih yang dibanggakan bangsanya..

Dalam usia yang 14 tahun ini, kelas 3 SMP AL Izhar Pondok Labu, terlihat sangat dewasa, ternyata terbentuk dari sikap sang Ayah bundanya yang menekankan kedisiplinan. Dan mereka menekankan untuk sekolah yang diutamakan, bila dalam satu kali terjadi kemunduran nilai, maka sang ayah mengultimatum untuk mengurangi kegiatan luarnya, dan ternyata setiap tahun prestasi Gita di sekolah selalu juara umum. Karena Gita pun tidak mau, kalau mainnya dikurangi. gita pun mendisiplinkan dirinya sendiri untuk bisa main dan sekolah dengan baik. Dia ungkapkan satu resep bahwa semua yang dijalaninya dirasakan dengan FUN, sehingga terasa enak, baik ketika Sekolah atau nyanyi atau kegiatan kegiatan yang lain. 

Peran Ayah Bundanya sangat berperan besar dalam kehidupan Gita. Sang Ayah, banyak memberikan masukan kepada Gita tentang semua hal tentang musik, sementara Sang Bunda berkaitan dengan masalah pribadi.  

Bagi waktu adalah kendala yang paling dirasakan oleh Gita, maka mendisiplinkan diri sendiri adalah cara yang terbaik untuk bisa meraih semua yang ingin dicapainya.

Dalam pesannya Bapak A.M Fachir berkata bahwa hanya dalam satu malam . Gita bisa menghadirkan Ibu Susan Mubarak, karena itu Pak Dubes bisa bersalaman dengan Ibu Mubarak, kalau bukan karena Gita mungkin tidak pernah di ajak wawancara dengan TV, tapi sebab kemenangan Gita pak Dubes pun diwawancarai oleh TV.  Kebanggaan bukan hanya untuk kita tapi juga  untuk anak anak kita dan adik adik kita di tanah air.  Dan Kemenangan Gita memberi pesan-pesan tertentu kalau menggali bakat dalam diri kita, sekecil apa pun, akan menjadi kebanggaan dan kontribusi, bukan hanya bagi diri kita sendiri, bukan hanya untuk keluarga, bukan hanya untuk bangsa kita, tapi juga untuk Internasional sejauh kita mempunyai kesungguhan untuk membina bakat yang ada dalam diri kita. Gita Berhasil dan keberhasilan itu melalui proses yang sangat panjang, tidak dilalui dalam sekejap, mulai dari kelas 2 SD. Ini yang sering kita lupakan, ingin berhasil dalam sekejap.

Selamat untuk Gita dan selamat untuk Indonesia..



The First time..
March 9, 2008, 11:03 am
Filed under: Tulisan santai | Tags:

101_35022.jpg 

Bismillah..Permulaan mengisi blog ini, serasa punya rumah ke 2 sesudah MP (Multiply) dengan nama situs yang lain . Untuk Mp saya sudah merasa enjoy untuk kemukakan semua apa yang menjadi bahan renungan saya walau masih terbatas, dan untuk lebih berusaha ke hal yang lebih baik, maka bentuk tulisan bisa saling berbagi dengan yang lain. Mungkin karena pengalaman yang belum banyak, namun saya merasa masih ada waktu. Untuk itu saya tertarik untuk menamainya Menghitung Hari, karena siapa tahu besok kita sudah tak ada. Beri waktu banyak namun ku ingin yang berkah, itu yang dinantikan semua orang. untuk bisa berkunjung ke Rumah Nya yang Indah kelak..Aku dan keluargaku 



Hello world!
March 9, 2008, 10:52 am
Filed under: Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!